"Evraz jadi dateng bareng—Kayen?" Eden sedikit ragu saat menyebut nama anak bungsu istrinya ini sebab dia memang tak punya jarak sedekat itu untuk sekadar menyapanya. “Naik apa?"
Jarel menyeruput *lemon tea-*nya sebelum membalas, "Naik ojol katanya, Om. Paling udah di jalan. Kan mereka pulang sekolah jam tigaan."
Ini rencana Evraz; membawa Kayen ke restoran untuk sedikit mengakrabkan diri dengan papa tirinya. Eden pun tak keberatan sama sekali, justru dia dengan senang hati menyetujui permintaan Evraz, bahkan sampai mengundur pertemuannya dengan sang klien. Jarel sendiri mendukung, dia juga skip kelas mata kuliah terakhirnya hari ini demi menemani adik-adiknya, siapa tahu Kayen bisa lihat sisi lain dari Eden, dan akhirnya mau pindah ke rumah mereka.
"Nah, itu dia.” Eden antusias, meski dia tak memungkiri ada gugup melingkupi dirinya.
Benar mereka. Evraz dan Kayen segera menghampiri lambaian tangan Jarel, tapi begitu sampai di meja ini, tidak satu pun menyadari perubahan wajah Kayen setelah menemukan Eden.
"Duduk, Kay.” Jarel sigap menepuk bangku di sebelahnya dan membiarkan Kayen duduk gamang di situ. “Macet apa? Lama banget."
Evraz mencebik sambil melepas ransel, "Kagak macet. Ojolnya aja lama nyari alamat sekolah. Padahal kan patokannya udah jelas."
"Kayen. Mau pesen apa?" Ada pertanyaan tiba-tiba dari Eden dan Kayen kelimpungan menjawab. “Nggak usah sungkan, pilih aja makanan kesukaan kamu. Om yang traktir, kok. Jarel sama Evraz juga cepet pilih makanannya, ntar keburu kelaperan, loh."
Jarel dan Evraz sempat menukar senyum, tapi Kayen tidak menyangka akan dibohongi dengan cara seperti ini.
"A-aku baru inget kalau ada kerja kelompok.” Kayen sengaja mengatur strategi agar bisa melarikan diri, tapi tentu tak akan semudah pemikirannya. Meski sekarang dia mengaku kesal pada Evraz, tapi mana mungkin dia bisa menunjukkannya di sini—di depan laki-laki yang membuatnya tak mampu berkutik ini? "Maaf, aku pergi duluan."